Nahdlatul Wathan, Modal Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi Jamaah

Agama bukan sekedar ibadah

Puasa sembahyang diatas sajadah

Tapi agama mencakup aqidah

Mencakup syariah mencakup hukumah.

(Wasiat Hamzanwadi)

Beberapa hari yang lalu kita baru saja merayakan hari bahagia, HULTAH NWDI. Tanpa terasa NWDI sudah berusia 82 atau bagi Nahdlatul Wathan adalah yang ke 64 tahun, dilihat dari angkanya tentu bukan menunjukkan usia yang muda lagi, melainkan usia yang sudah sangat matang dan dewasa dalam kiprahnya untuk jamaah dan bangsa. Sepanjang usia tersebut bisa kita saksikan Nahdlatul Wathan telah banyak memberikan peran penting dalam upaya membangun Indonesia. Sejak masa-masa awal Maulana Syaikh sudah berperan aktif dalam pendirian lembaga pendidikan, dan sampai saat ini telah berdiri berbagai institusi pendidikan Nahdlatul Wathan mulai dari tingkat Raudatul Athfal (Taman Kanak-kanak), tingkat pendidikan? dasar, menengah sampai perguruan tinggi. Tidak hanya dalam bidang pendidikan, Nahdlatul Wathan juga aktif dalam melaksanakan gerakan-gerakan sosial dan dakwah. Bahkan dalam bidang politik dan pemerintahan NW telah berhasil menempatkan kader-kadernya menduduki posisi-posisi penting untuk mendukung pembangunan.

Namun, apakah kiprah Nahdlatul Wathan cukup hanya dicukupkan sekedar pada bidang pendidikan, sosial dan dakwah saja? Atau juga ditambah bidang politik? Saya rasa kita semua bersepakat gerakan Nahdlatul Wathan tidak harus dibatasi hanya sebatas beberapa-bidang tersebut. Satu hal yang juga sangat penting adalah pemberdayaan ekonomi jamaah. Dalam sebuah obralan kecil bersama teman, saya sangat tersinggung dengan sebuah pernyataannya, dia mengatakan ?Sik miskin-miskin lek NTB ine luekan dengan NW doang? (yang miskin di NTB ini kebanyakan adalah orang NW). Namun dalam hati saya meng-iyakan pendapatnya. NW sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar, mempunyai jamaah yang juga paling besar. Logikanya NW tentu ikut memberikan sumbangan yang cukup signifikan terhadap tingginya angka kemiskinan di NTB. Terlepas dari itu, ada keyakinan bahwa jamaah NW miskin bukan karena, seperti disampaikan Syed Husain Alatas, sifat pribumi malas. Melainkan karena keadaan tidak berdaya (powerless) dan ketidakberpihakan struktur yang memaksanya berada dalam kondisi kemiskinan, sehingga membutuhkan sebuah tindakan pemberdayaan (empowerment).

Tidak bisa dipungkiri memang, fokus gerakan Nahdlatul Wathan pada bidang pendidikan, sosial dan dakwah secara tidak langsung hampir melupakan aspek penting yaitu pemberdayaan jamaah. Ajakan para pimpinan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang menyangkut langsung dengan masyarakat pun masih bersifat sebatas philantrophy (amal). Memberikan pengobatan gratis, sumbangan air bersih dan sebagainya, bukan ingin mengatakan kegiatan itu tidak bermanfaat, sangat bermanfaat. Namun, ada hal penting belum terakomodir, kegiatan yang menyasar secara langsung untuk kegiatan pemberdayaan belum banyak terdengar. Meminjam pertanyaan sosiolog UGM, Prof.Sunyoto Usman. ?Sudahkah mereka membangun kegiatan kolaboratif bagi kesejahteraan masyarakat??

Sebagai sebuah organisasi yang cukup matang tentu bukan hal yang mustahil bagi Nahdlatul Wathan untuk mulai melakukan kegiatan pemberdayaan jamaah. Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab, bagaimana untuk memulai melakukan pemberdayaan? Pertanyaan ini membuka ruang diskusi yang luas bagi para kader untuk menawarkan alternatif jawaban untuk memecahkan persoalan tersebut. Saya pribadi memberikan pendapat bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah mengembangkan modal sosial untuk memulai kegiatan-kegiatan produktif. Kenapa harus modal sosial?

Sedikit bercerita, pada sekitar tahun 80-an negara-negara di Asia Timur (Jepang, Taiwan, Hongkong) dengan mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Timur yang hampir menyaingi negara-negara barat semakin menguatkan keyakinan negara barat bahwa sistem ekonomi kapitalisme akan mampu membawa kesejahteraan. Hal itu terbukti bahwa negara-negara tersebut mampu mengejar ketertinggalan. Krisis di Asia Timur yang terjadi pada tahun 90-an mengejutkan negara barat, perekonomian negara-negara tersebut lumpuh. Sistem kapitalisme yang mereka banggakan ternyata tidak mampu mengatasi krisis di Asia Timur. Namun ditengah krisis yang terjadi negara-negara seperti jepang dalam waktu singkat berhasil memperbaiki dan membangun perekonomiannya. Sehingga mereka dijuluki ?The East Asian Miracle?. Setelah di teliti ternyata penyebab mereka berhasil keluar dari krisis adalah karena Jepang memiliki modal sosial yang kuat, seperti semangat kerja keras, trust (saling percaya) dan lain-lain. Berawal kejadian tersebut? World Bank mulai menggelontorkan dana untuk berbagai research modal sosial untuk pembangunan di negara-negara berkembang.

Kembali ke pembahasan, Nahdlatul Wathan sebagai organisasi yang muncul dan berkembang dari masyarakat memiliki potensi besar untuk melakukan gerakan pemberdayaan ekonomi jamaah. NW memiliki modal sosial yang kuat yang bisa mendukung pengembangan perekonomiannya. Salah satu modal sosial yang dimiliki jamaah NW terdapat dalam tradisi ?melontar?, semangat menyumbang dan kebersamaan membangun. Nilai-nilai tersebut yang telah menjadi karakter dan melekat kuat tersebut jika diberdayakan maka akan menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa besar. Begitu juga dengan modal-modal sosial lainnya yang ketika dikombinasikan dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi bisa membawa peningkatan bagi perekonomian jamaah NW secara khusus dan masyarakat pada umumnya.

Kegiatan-kegiatan pemberdayaaan ekonomi jamaah dengan basis modal sosial tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti pengembangan koperasi, pendidikan keterampilan sampai pada pengelolaan perbankan. Para tokoh NW berdiri menjadi terdepan untuk memberikan contoh pembelajaran ekonomi, membangun relasi, jaringan sosial dan sebagainya. Dengan langkah pemberdayaan ekonomi tersebut yang dikelola secara baik maka NW akan menjadi pelopor untuk peningkatan kesejahteraan umat dan pengentasan kemiskinan.

***Penulis: M. Zainul Asror (Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Hamzanwadi)